Pecahan-pecahan jiwaku memenuhi perasaannya
Sesaat aku berlari namun sesaat kemudian aku berhenti
Pecahan itu tersebar ke seluruh relung jiwanya
Sesaat aku terdiam namun sesaat kemudian aku berteriak
Pecahan itu mulai melukainya
“Jiwamu tajam”, katanya
Aku hanya memandangnya nanar tak bersuara tak membalas ucapannya
“Jiwamu menyayatku”, katanya lagi
Lagi-lagi aku hanya termangu memandangnya tanpa menatapnya
“Cepat kau rapihkan serpihannya, jika tidak jiwakupun akan hancur berkeping-keping”, umpatnya, namun aku mendengar kepahitan dalam suaranya…teriakannya.
Pecahan itu mulai bergerak kelihatannya berusaha menyatu
Rupanya teriakannya tadi cukup mempengaruhinya
“Habis sudah kesabaranku, CEPAT LAKUKAN !!!!”
Aku yang sudah mati aku yang akan hidup aku yang tidak lagi mempedulikan dunia
Seribu cinta untukku, katanya. Mengapa hanya seribu kataku, jika kau hitung satu cinta untuk satu hari maka cintamu akan habis dalam seribu hari dalam tiga tahun dan kau akan melupakanku
Lihatlah mata penuh kebencian yang menyorot tajam dari wajah yang selalu tersenyum ramah
Lihatlah noda yang mengotori pakaian yang selalu terjaga kebersihannya
Aku bukan siapa-siapa baginya namun aku adalah raja bagi sebagian orang
aku adalah permaisuri bagi sebagian lainnya dan aku adalah cinta bagi kekasihku
Aku tidak harus mempedulikan tatapannya, nodanya atau kebenciannya
Aku adalah diriku yang mampu berdiri tegak tanpa dirinya.